Mengukir Karakter Anak Bangsa Sejak Usia Dini Kamis, 10 September 2020

Mengukir Karakter Anak Bangsa Sejak Usia Dini Image © ISS Indonesia.

‘Karakter adalah nasib. Karakter akan membentuk nasib seseorang, begitupun nasib keseluruhan masyarakat. Namun karakter yang baik tidaklah terbentuk dalam seminggu ataupun sebulan, melainkan tertanam dalam sehari demi sehari, sedikit demi sedikit. Butuh kesabaran dan upaya yang terus-menerus dalam mengembangkan karakter baik yang dibutuhkan.’

Falsafah dari Heraclitus, filsuf asal Yunani ini menjadi salah satu alasan di balik keyakinan seorang Ratna Megawangi pada pekerjaannya. Sang pelopor metode Pendidikan Holistik Berbasis Karakter (PHBK) ini tahu benar bahwa terdapat proses yang harus dilalui untuk menjadi manusia yang berkarakter. Suatu proses yang tidak sekadar menghafal, tetapi lebih dari itu. Dimulai dari ‘mengetahui’ kebaikan, maka akan timbul rasa ‘mencintai’ kebaikan, lalu munculah dorongan kuat untuk ‘melakukan’ kebaikan (Knowing, Loving, and Acting the good).

Menurutnya, membentuk karakter berarti mengukir manusia menjadi konsisten antara pikiran, hati, dan tindakan nyata. Berangkat dari kekhawatirannya terhadap karakter anak bangsa pasca peristiwa kerusuhan di tahun 1998, Ratna bersama suaminya, Sofyan A. Djalil (saat ini Menteri ATR/BPN) kemudian menginisiasi Yayasan Warisan Luhur Indonesia atau lebih dikenal dengan ‘Indonesia Heritage Foundation’ (IHF). IHF resmi didirikan pada tahun 2001.

“Kita (sebagaimana umumnya) orang-orang Indonesia, sudah tahu nilai-nilai agama dan moral, dimana semuanya itu baik. Orang Indonesia sudah pasti tahu mana yang baik dan mana yang buruk. Tapi kenapa kok masih melakukan hal-hal seperti penjarahan dan pengrusakan? Pasti ada something wrong. Kenapa sudah tahu (hal yang baik), tapi tidak bisa melaksanakan?” ungkap Ratna.

Sebagai pribadi yang dikenal sederhana dan memiliki tingkat intelektualitas tinggi, Ratna mempunyai mimpi dan idealisme besar dalam membangun bangsa. Di Sekolah Karakter --sekolah di bawah naungan IHF--, lulusan pascadoktoral dari Tufts University, Medford, Amerika Serikat ini kemudian menerapkan metode PHBK yang bertujuan untuk mengembangkan semua dimensi manusia.

Titik berat dari metode PHBK ini adalah penanaman “9 Pilar Karakter.” Konsep ini bertujuan membentuk karakter anak sejak usia dini, sebab karakter yang baik akan menunjang pengembangan berbagai dimensi kecerdasan manusia.

“Karena kalau karakternya sudah terbangun di usia dini, hal itu tidak akan hilang. Akan masuk ke alam bawah sadar, (karena) 90% perilaku (manusia) itu dikendalikan oleh alam bawah sadar. Anak-anak yang dari kecilnya penuh kasih sayang, sekolahnya menyenangkan, nggak stress, orang tua pun nggak stress, itu nggak akan ada rekaman emosi negatif. Yang ada (hanya) emosi positif, jadinya sabar,” jelas Ratna. 

Sebagai seorang ibu dari dua orang putra dan satu orang putri, Ratna percaya bahwa membangun karakter anak harus diawali dengan membangun lingkungan yang penuh cinta dan kasih sayang. Hal tersebut kemudian akan membentuk karakter empati dalam diri anak sehingga terbentuk kesadaran bahwa mereka adalah bagian dari keseluruhan masyarakat. Kelak ketika dewasa, kesadaran tersebut dapat menjadi kontrol bagi setiap pikiran, hati, dan tindakan nyata yang akan diambilnya.

Perjuangan penulis buku berjudul ‘Pendidikan Karakter: Solusi yang Tepat untuk Membangun Bangsa’ untuk menjadi agent of change bagi anak-anak para calon pemimpin masa depan Indonesia, tidaklah mudah. Mulai dari hal sederhana, sesederhana membiasakan guru untuk menebarkan senyum dan kasih sayang di lingkungan sekolah, hingga yang lebih berat, terkait operasional dana sekolah, sudah pernah dihadapinya. Seiring berjalannya waktu dan perubahan yang sedikit demi sedikit telah dilakukan, Ratna pun kini semakin optimis, Indonesia akan diisi dengan manusia-manusia unggul dan calon-calon pemimpin yang berkarakter baik di masa depan.

“(Harapannya, akan terbentuk manusia) yang bisa memengaruhi lingkungan, yang (dapat) membawa kita ke arah yang lebih baik. Nah, itu kita tanamkan ke murid-murid. Jadi semua (orang) itu adalah leader buat dirinya sendiri, yang bisa mengontrol dirinya, emosinya, perilakunya, amarahnya, dan bertanggung jawab (atas semua perilakunya). (Orang seperti) itu yang akan menjadi pemimpin yang berhasil,” tegas Ratna.

Sebagai seorang Great leader di dunia pendidikan karakter, kini perempuan kelahiran tahun 1958 ini telah berhasil menyebarluaskan  metode PHBK pada sekitar 3.300 sekolah di seluruh Indonesia, dari yang awalnya hanya empat sekolah. Melalui yayasan yang didirikannya pula, ia telah berhasil mengembangkan sebuah program yang bernama Semai Benih Bangsa. Program ini dikhususkan untuk membantu sekolah-sekolah yang diakses masyarakat kurang mampu agar bisa mendapatkan pendidikan berkualitas. Di dalam upaya Ratna mengukir karakter anak bangsa sejak usia dini, tersimpan optimisme dan harapan untuk kemajuan Indonesia.


0 Komentar
Artikel Terkait