Memanfaatkan Tantangan sebagai Peluang Kamis, 10 September 2020

Memanfaatkan Tantangan sebagai Peluang Image © ISS Indonesia.

Sosok Yulisar Khiat begitu melekat dalam dunia penyedia layanan kesehatan di tanah air. Ia adalah putra dari Hermina Sulaiman, pemrakarsa Klinik Bersalin Djatinegara yang berdiri pertama kali pada tahun 1967. Pria kelahiran Jakarta, 63 tahun silam ini telah mendedikasikan lebih dari setengah perjalanan hidupnya dalam berkontribusi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

“13 founder Hermina adalah mayoritas dokter. Namun, selain menjunjung tinggi profesi dalam menolong tanpa memandang apapun, komitmen kami juga untuk meningkatkan taraf ekonomi di daerah tersebut untuk tentunya meningkatkan derajat kesehatan di daerah tersebut. Oleh karena itu Hermina membuat business model economic sharing dengan para dokter di daerah setempat,” jelas lulusan Sarjana Ekonomi dan Magister Administrasi Rumah Sakit ini.

Memiliki latar belakang pendidikan bukan medis, salah satu dari 13 founder Rumah Bersalin Hermina, yang merupakan cikal bakal dari PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) ini begitu termotivasi dan semangat untuk menjadi adaptif dan mempelajari industri kesehatan sekaligus mentransformasikan kualitas dan mutu pelayanan kesehatan di Hermina, dari masa ke masa. Dari yang awalnya Rumah Bersalin di Jatinegara yang mempunyai kapasitas 7 tempat tidur, lalu berubah menjadi RS Bersalin, Yayasan Hermina, lalu menjadi RSIA Hermina Jatinegara, dan akhirnya sekarang menjadi RS Umum yang memiliki 37 cabang di seluruh Indonesia, dan akan segera menambah 3 rumah sakit baru.

Dari situ juga, kepemimpinan Yulisar begitu diuji kala menghadapi berbagai tantangan yang ia dan para founder lain hadapi. Ada tiga tantangan yang cukup menantang dalam karirnya bersama Hermina. Tantangan pertama yaitu saat krisis ekonomi terjadi di tahun 1998. Kala itu, ia bersama jajaran direksi Hermina melewati masa krisis dengan menyediakan pelayanan yang dikemas dalam paket-paket tindakan. Hal itu tak hanya memberi peluang dalam kemudahan akses kesehatan bagi masyarakat, melainkan juga menjadikan Hermina sangat siap dan begitu terbuka untuk melayani pasien program BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) Kesehatan, sejak pertama kali program tersebut bergulir pada tahun 2004.

“Dalam menjalankan BPJS, komitmen Hermina tetap berpusat pada patient safety (keselamatan pasien) untuk selalu dijalankan, dan memastikan aturan di BPJS juga dijalankan. Tidak boleh ada masyarakat yang dirugikan. Setiap kami membuka rumah sakit, kami langsung memproses pengajuan BPJS, sehingga seluruh masyarakat dapat menjangkau pelayanan kesehatan. Itu dilakukan dalam rangka memastikan hak masyarakat yaitu BPJS untuk dapat dirasakan oleh siapapun sehingga masyarakat tidak perlu membayar apapun,” jelasnya.

Hal kedua yang menantang baginya adalah saat menyiapkan PT Medikaloka Hermina menjadi perusahaan terbuka melalui Initial Public Offering atau IPO, dimana ia dan dua top leader lainnya yaitu dr. Hasmoro sebagai direktur utama dan dr. Binsar Parasian Simorangkir serta seluruh SDM Hermina mengalami restrukturasi perusahaan yang besar. Menurut Yulisar Khiat, hal ini sangat berkesan sekali karena begitu banyak perubahan yang terjadi dalam waktu yang cukup singkat, dimulai dari due diligence atau uji kelayakan dan perubahan apa saja yang harus dilakukan, Namun pada akhirnya tetap bisa terwujud dan terlaksana.

Selama persiapan IPO, ia juga berinteraksi dengan beberapa konsultan hukum yang mendorongnya untuk lebih mempelajari hukum dan mulai mengambil Sarjana ukum di tahun 2018, dan dilanjutkan dengan Magister Ilmu hukum di tahun 2019.Selepas IPO, tantangan pasca IPO pun terus berlanjut, dimana Hermina berkomitmen untuk merealisasikan prospektus.

“Saya ini sangat suka sekali belajar baik akademis maupun non akademis. Menurut saya, kita tidak boleh berhenti belajar. Itulah yang membuat saya kembali ke bangku kuliah. Tapi sebetulnya saya bukan tipe kutu buku. Saya itu nomor satu, learning by doing, belajar dari para pelaksana yang punya best practice. Oleh karena itu saya bergabung dalam IKKESINDO (Ikatan Konsultan Kesehatan Indonesia) dan menjadi konsultan dan asesor. Ini membuat saya bisa selalu belajar dari teman dan sharing pengalaman di Hermina agar semua RS bisa menjadi baik dan tumbuh bersama-sama,” ia menceritakan alasannya kembali ke bangku kuliah.

Bagi Direktur Operasional PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) ini, memimpin berarti bisa memberikan keteladanan. Dalam kepemimpinannya di Grup Rumah Sakit Hermina, budaya korporasi Hermina berupa trust, commitment, humble, dan transparent adalah nilai yang ia terapkan kepada jajaran pimpinan dan para staf rumah sakit di seluruh Indonesia.

“Saya menekankan dalam pekerjaan saya sehari-hari itu selalu menerapkan konsep yang saya sebut 3T dan 3K. 3T itu Tepat mutu, Tepat waktu, Tepat sasaran. Semuanya tepat, tidak boleh meleset. Yang paling penting ada lagi 3K: Komunikasi, Koordinasi, Kolaborasi,” tuturnya.

Dalam memimpin timnya, ia percaya dengan mengedepankan komunikasi dan arahan yang jelas, dan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait yang andal di bidangnya. Menurutnya, poin terakhir yang paling menantang adalah menciptakan kolaborasi antara seluruh jenjang dari tim. Namun ia berkata lagi, jika tiga hal ini berhasil diterapkan maka akan menciptakan sinergi yang luar biasa.

“Semua harus dikerjakan dari yang kecil, memecahkan masalah, dan mempelajari langkah-langkah agar dapat membuat SPO (Standar Prosedur Operasional) dan di-improve dengan kemampuan teknologi dan penyesuaian teknologi. Selain itu, leader juga harus berkomitmen dengan pengembangan timnya. Hermina fokus dan commit untuk melakukan pendidikan dan pelatihan kepada para karyawan agar improve kompetensi terukur dan mampu memberikan pelayanan yang professional,” jelasnya.

Di tengah menghadapi tantangan tersebut, Hermina Hospitals Group sebagaimana dunia pelayanan kesehatan pada umumnya di penjuru dunia juga harus berhadapan dengan pandemi virus COVID-19. Hermina pun menjawabnya dengan menyiapkan sejumlah strategi, kehati-hatian dan sangat perhatian dengan tenaga kesehatannya, serta mampu menyesuaikan bahkan lincah (agile) terhadap perubahan keputusan pemerintah pusat maupun daerah.

Pada saat pemerintah mengumumkan terjadi kasus corona di Indonesia pada pertengahan Maret, kami tim BOD segera membentuk tim Satgas dan segera menginstruksikan departemen terkait untuk melakukan persiapan dalam menghadapi pandemi ini. Contohnya Departemen Medis segera membuat regulasi terkait pelayanan COVID-19, Departemen Penunjang Medis mengidentifikasi kebutuhan dan kualitas APD, Departemen Mutu melakukan perbaikan-perbaikan alur bangunan untuk pasien COVID-19 dan pemantauan kepatuhan penggunaan APD serta menyusun semua regulasi yang terkait pengendalian Infeksi. Dalam waktu yang sangat singkat, kasus semakin banyak sehingga kami lansgung bentuk Tim Satuan Tugas COVID-19 Group dan mempersiapkan Hermina sebagai RS rujukan COVID-19, baik untuk intenal maupun eksternal,” ungkapnya.

Selain itu, manajemen Hermina juga fokus kepada bagaimana corporate dan RS tetap bertahan dan mampu bertumbuh di masa COVID-19. Tentunya, menurut Yulisar Khiat, COVID-19 ini berdampak pada pendapatan karena pengurangan jumlah pasien rawat inap dan rawat jalan.  Dimana ada beberapa strategi yang bisa dilakukan pengurangan fixed cost yaitu outsourcing dan biaya SDM. Namun karena budaya Hermina (trust, komitmen dan transparansi), Hermina menghindari hal-hal tersebut.

ISS Indonesia sebagai penyedia layanan/jasa dan manajemen fasilitas di Hermina Hospitals Group selama lebih dari tujuh tahun terakhir, turut mendukung pelaksanaan strategi tersebut diantaranya melalui upaya pembersihan mendalam atau deep cleaning dan disiplin menerapkan social/physical distancing. Yulisar pun berharap agar pandemi ini segera berakhir, selagi semua pihak mengupayakan kebaikan dalam penanganan COVID-19. Bersama dengan ISS Indonesia dan industri pendukung RS Hermina lainnya yang potensial, ia juga berharap untuk dapat lebih disinergikan.

Bersama dengan para pimpinan PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL), Yulisar memiliki cita-cita mulia dengan mendorong economic sharing para dokter yang merupakan putra-putri daerah agar berinvestasi dengan membangun dan mengelola rumah sakit di daerah masing-masing. Sehingga menciptakan derajat setinggi-tingginya bagi semua lapisan masyarakat melalui pemeliharaan kesehatan secara preventif, promotif kuantitatif dan rehabilitatif yang dilaksanakan secara menyeluruh dan merata. Lebih jauh lagi, Ketua Yayasan Akademi Perawat Hermina Husada Manggala ini juga mencita-citakan pendirian Fakultas Kedokteran Hermina di tahun 2025 nanti.


0 Komentar
Artikel Terkait