Meneladani Kepemimpinan dari Sosok Komunikator Publik Kamis, 10 September 2020

Meneladani Kepemimpinan dari Sosok Komunikator Publik Image © ISS Indonesia.

Masyarakat mulai mengenal sosok Achmad Yurianto sejak kemunculan rutinnya setiap hari dalam pemberitaan media, dari layar kaca hingga ranah media sosial. Tepatnya pada 3 Maret 2020, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI ini resmi ditunjuk oleh pemerintah sebagai Juru Bicara Penanganan COVID-19.

Meski sejak 21 Juli 2020, pejabat berlatar belakang dokter militer ini sudah digantikan oleh Ketua Tim Pakar Gugus Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmito sebagai jubir pemerintah, namun sosok kepemimpinannya dalam mengkomunikasikan informasi dan pengumuman pemerintah terkait wabah virus menular begitu patut diteladani.

Sore itu pada pertengahan Agustus lalu, Tim Redaksi GREAT ISS bertandang ke kantor Direktorat Jenderal P2P Kemenkes RI di bilangan Kuningan, Jakarta Selatan. GREAT ISS menemuinya langsung untuk mengenal sosoknya lebih dekat sekaligus mendalami inspirasi akan kepemimpinan dari penerima penghargaan “The Best Public Relations of The Year” dalam Indonesia Corporate Branding Awards 2020, yang diselenggarakan oleh Iconomics Research and Consulting di bulan Mei lalu ini.

Menanggapi penghargaan yang ia terima itu, pria yang biasa disapa dengan Yuri ini mengapresiasi dan juga menyadari bahwa untuk berbicara dengan orang banyak memang harus hati-hati betul. Apalagi ketika berhubungan dengan media, dimana media memiliki kemampuan dalam menyebarkan informasi secara luas. “Bagi saya satu saja, bahwa saya harus bisa mengkomunikasikan masalah ini (COVID-19) ke masyarakat. Karena saya menuntut peran masyarakat sebagai subyek dari perubahan ini.”

“Pola pikir masyarakat kita ini perlu kita ubah. Siapa yang bisa efektif untuk mengubah, menyampaikan message perubahan ini? Media.”

Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini pun menyadari pentingnya mengkomunikasikan informasi penanganan pandemi ini dengan baik, mengingat penerimaan informasi akan bergantung pada persepsi individu. “Artinya jangan ada gap secara psikologis yang terlalu lebar antara orang yang diajak diskusi atau diajak berbicara, dengan yang berbicara.”

Dalam memimpin komunikasi informasi pemerintah terkait penanganan COVID-19 kepada publik, Yuri kemudian menjelaskan tentang makna kepemimpinan dalam pandangannya. “Sebenarnya kepemimpinan itu bagaimana kita mengajak orang untuk mencapai sebuah tujuan yang kita sepakati bersama, dan bagaimana kita bisa me-manage orang untuk fokus dan mencapai kesepakatan itu. Kalau ada tujuan yang tidak disepakati dan dipaksa orang untuk mengikutinya, namanya bukan kepemimpinan tapi penjajahan itu,” tutur pria kelahiran Malang, 11 Maret 1962 ini.

Baginya, kepemimpinan adalah keteladanan. Namun keteladanan bukan berarti yang paling pintar ataupun yang paling hebat, melainkan yang paling kuat komitmennya. Dengan keteladanan, maka akan melahirkan kepatuhan. “Karena itu pemimpin itu harus dilahirkan, bukan diciptakan. Jadi memang harus mengalami dari bawah sampai ke atas. Ada prosesnya dan nggak tiba-tiba menjadi pemimpin.”

Pengalaman selama hampir 30 tahun lamanya menjadi pelayan negara dalam Tentara Nasional Indonesia, menjadikan Yuri terbiasa dengan tugas apa pun yang diembankan kepadanya. Baginya, tugas adalah suatu kehormatan yang diberikan oleh pimpinan. “Karena tidak semua orang dipercaya untuk melakukan itu. Hanya orang-orang yang dipercaya, yang dihormati, yang diperintahkan. Inilah yang menjadi spirit positif bagi saya untuk berpikir, satu, lakukan yang terbaik,” ungkapnya.

Di tengah tanggung jawab dan rutinitas padatnya, Yuri tetap berupaya untuk menikmati hidup karena menurutnya, hidup ini terlalu indah untuk dilewatkan. Dalam lamanya sehari 24 jam pun, ia berpikir kalau itu adalah waktu yang sangat Panjang. Kepada GREAT ISS, Yuri menceritakan tentang hobi memancing di waktu luangnya, saat dulu pernah ditugaskan ke daerah yang jauh dari keluarga. “Dulu saya lama dinas di Ambon kan, itu kalau sudah hari Sabtu-Minggu mau ngapain, pulaunya kecil. Ke sana-sini paling kalau nggak ketemu sama miras, ya ketemu sama dunia malam. Mending ke laut saja. Mau ketemu siapa? Ketemu ikan saja.”

Ia pun menekankan pentingnya stress release atau melepas penat saat luang dari rutinitas. Seperti halnya ia memanfaatkan waktu luangnya untuk membuat boneka kertas. “Itu stress release kalau saya kemudian memanfaatkan koran bekas untuk jadi patung itu ya, dan saya nggak perlu kemana-mana.”

“Ingat, seringan apapun beban, sekali-sekali harus dilepas. Kalau nggak, nggak akan kuat. Coba deh saya kasih barbel 2 kilo, kamu pasti pikir kecil dan ringan. Tapi coba dipegang 2 sampai 4 jam, pasti nggak kuat. Seringan apa pun, suatu saat itu letakkan dulu. Bukan untuk ditinggal, tapi untuk diangkat lagi.”

Kolonel CKM (Purn.) dr. Achmad Yurianto, saat kini tidak lagi menjadi jubir pemerintah, ia tetap menangani COVID-19, sebagai salah satu jenis penyakit yang menjadi ranah dalam tanggung jawab tugas dan kepemimpinannya terkait pencegahan dan pengendalian penyakit. Ia pun kini berfokus pada jenis-jenis penyakit lain baik itu yang menular ataupun tidak menular, namun sekarang ini terbilang tenggelam dari pemberitaan media.

“Ini pekerjaan besar kita, butuh effort yang luar biasa, dan tidak bisa lagi berpikir kalau ini urusan pemerintah saja. Perang terhadap penyakit adalah perang semesta. Penyakit itu nggak pilih-pilih.

Yuri yang begitu khas dengan tampilan pakaian batiknya begitu menyoroti Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Di tengah pandemi COVID-19 saat ini, ia pun mengibaratkan GERMAS dan PHBS layaknya perahu Nabi Nuh yang menyelamatkan umatnya dari bencana air bah, dan ia mengajak masyarakat untuk menjadi subyek terhadap perubahan di era new normal.

“Kalau mau selamat, di atas perahu GERMAS itu ada tiang, itu PHBS. Pegangan saja di situ, kita mudah-mudahan selamat. Karena di PHBS itu ada 3M (mengenakan masker, mencuci tangan, menjaga jarak). Simple kan. Ya kalau nggak mau naik perahu GERMAS, nggak mau pegangan dengan PHBS, ya sudah. Jangan mau sakit, dan pilihan ada di tangan kita,” ucapnya.

Sebelum mengakhiri pertemuan GREAT ISS dengan pemimpin yang sangat inspiratif ini, Yuri menutupnya dengan pesannya tentang kehidupan. “Saya selalu optimis. Menikmati hidup dengan senang karena orang bisa senang itu kan hidupnya gampang. Hidup itu kan dari keinginan-keinginan. Kalau keinginannya rasional, pasti gampang.” *** 


0 Komentar
Artikel Terkait