Filosofi Kepemimpinan dari Sutanto Hartono Kamis, 10 September 2020

Filosofi Kepemimpinan dari Sutanto Hartono Image © ISS Indonesia.

Saat masyarakat diharuskan untuk beraktivitas dari dan di rumah saja, mereka menonton televisi, memperbarui informasi lewat tayangan berita, mencari hiburan film dengan mengakses video streaming, bertransaksi finansial secara non tunai, dan sebagainya.

Hal ini menjadikan media, telekomunikasi dan solusi teknologi informasi sebagai salah satu industri yang harus terus beroperasi, meski pandemi COVID-19 tengah terjadi. Seperti yang dilakukan oleh EMTEK Group dengan berbagai layanannya, di antaranya meliputi Surya Citra Televisi (SCTV), Indosiar Visual Mandiri (INDOSIAR), Liputan6.com, Vidio.com, Bukalapak, DANA, dan banyak lagi layanan lainnya.

Di balik keberhasilan perusahaan nasional terdepan ini dalam berekspansi, menciptakan bisnis baru, hingga menghadapi tantangan yang luar biasa di tengah pandemi, Sutanto Hartono selalu menjadi sosok Great leader yang menginspirasi dan memotivasi.

“Ketika kita mempunyai suatu peran aktif, bahwa peningkatan performa ataupun terciptanya suatu bisnis baru itu karena keberadaan kita sama-sama dengan tim, buat saya itu suatu hal yang sangat rewarding.”

Akhir Juli lalu, Tim Redaksi GREAT ISS berkesempatan untuk berbincang langsung tentang perjalanan karier dan kepemimpinan dari CEO SCTV yang juga CEO PT Surya Citra Media Tbk., sekaligus COO PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTEK Group) ini. Kemudian di kesempatan yang berbeda, tepatnya dalam sesi ‘Leadership Talk’ pada kegiatan ‘Managers Communication Meeting ISS Indonesia’ yang diadakan pada pertengahan Agustus lalu, GREAT ISS kembali mendapatkan wawasan yang begitu mengilhami dari pemimpin terpercaya dengan sepak terjangnya di berbagai bidang industri ini.

Having the right people bernilai jauh lebih tinggi daripada having the right strategy.

Sutanto meyakini bahwa orang merupakan hal penting dalam mengindikasikan kondisi suatu perusahaan. Strategi saja tidaklah cukup, karena menurutnya, perusahaan akan berada dalam kondisi sehat ketika diisi oleh orang-orang yang tepat. “Tentu saja itu juga menciptakan kultur yang berbeda.”

Sebagai seorang leader, ia harus tahu apa yang diinginkan dan tahu siapa saja orang-orang yang bisa membantunya. Karena leader berarti memberikan dan menularkan visi dan arahan dengan suatu standar output kepada timnya sehingga mereka pun bisa melihat tujuannya. “Yang akhirnya (tim) bisa menjadi kepanjangan kapasitas dari seorang pemimpin, mengingat keterbatasan kita sebagai manusia.”

Berbicara lebih dalam tentang kepemimpinan, sebenarnya tidak ada teori muluk-muluk yang Sutanto miliki. Dalam pandangannya, seorang pemimpin utamanya harus mampu memberikan nilai tambah kepada tim yang ia pimpin. “Kalau nggak ada value addednya, apa bedanya pimpinan sama bawahannya.”

Selain itu, pemimpin menurutnya juga harus berani untuk tidak populer. “Karena beberapa tindakan kita itu mungkin adalah tindakan yang benar dan dibutuhkan oleh suatu perusahaan, tapi belum tentu itu tindakan yang menyenangkan.”

“Saya yakin bahwa kita sebagai pemimpin harus yakin, kalau ini memang terbaik untuk jangka waktu yang lebih panjang, asalkan kita bisa yakinkan tim kita untuk bisa memahami, bisa bersabar dan sebagainya, pada akhirnya mereka juga akan melihat kebenaran tindakan yang dilakukan selama ini.”

“Bagi saya perpaduan value added dan berani tidak populer adalah yang saya sebut sebagai kepemimpinan.”

Mendengar pemikirannya tentang kepemimpinan, Sutanto yang merupakan sarjana lulusan Teknik Kimia dari University of Notre Dame di Indiana serta meraih gelar Master of Business Administration dari University of California di Berkeley, Amerika Serikat ini membuat GREAT ISS bertanya, adakah titik balik yang ia alami dalam perjalanan karier ataupun hidupnya sehingga sampai pada kemampuan kepemimpinannya di hari ini?

Pria kelahiran Yogyakarta, 53 tahun silam ini pun kemudian menceritakan tentang sosok mendiang ayahnya, yang menurutnya menjadi starting point akan filosofi kepemimpinan yang ia miliki dan jalani sampai saat ini. Dalam jatuh bangun almarhum sang ayah mendirikan toko besi, membangun dan mengembangkan bisnisnya, hingga beralih ke bisnis penyamakan kulit dan terbilang sukses.

Almarhum ayahnya kerap mendiskusikan berbagai permasalahan dalam bisnisnya dan berbagai hal lain, sehingga Sutanto pun secara tidak langsung memetik pelajaran tentang kepemimpinan ini. “Itu bagi saya banyak sekali value yang kayak nempel di saya sampai sekarang. Nah, itu saya benar-benar sangat bersyukur saya mendapatkan pendidikan seperti itu.”

“Bagaimana kita mencari best practice yang muncul dari masing-masing leader dan best practice itu bisa kita tiru dalam ilmu kepemimpinan kita.”

Selain itu, Sutanto juga merasa bersyukur bahwa dalam perjalanan kariernya di berbagai bidang industri, ia juga memiliki atasan yang selalu bisa ia teladani dan menjadi tempatnya menimba berbagai macam ilmu. “Saya selalu berusaha untuk melihat apa kehebatan bos saya. Otomatis nggak mungkin bisa saya copy semuanya tetapi at least saya bisa lebih paham dengan perspektif yang lebih luas, menjadi pembelajaran dan perbaikan dalam sisi kepemimpinan saya.

Lalu bagaimana dengan kepemimpinannya di tengah pandemi COVID-19 saat ini? Sutanto menyadari bahwa COVID-19 telah menjadi tantangan yang luar biasa bagi semua perusahaan. Kelangsungan hidup menjadi hal fundamental bagi organisasi dengan memastikan semua karyawannya bisa bekerja dengan aman. “Itu sebagai prioritas yang tidak bisa kita tawar. Tetapi bukan berarti kita mau aman, terus kita nggak ngapa-ngapain. Kita tetap harus move on dengan bisnis dan kehidupan kita.”

Sejak pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar pada pertengahan Maret lalu, Sutanto mengakui bahwa diperlukan adaptasi dengan perubahan kebiasaan dan operasional, dimana bisnis pun mengalami pengurangan cash flow.

Saat optimalisasi teknologi melalui pekerjaan yang dilakukan secara virtual ataupun dari jarak jauh sangatlah diperlukan, hal ini berarti siap membiayai investasi teknologi demi kelancaran bisnis dan operasional. Efisiensi dan efektivitas biaya pun mengalami kenaikan namun harus diikuti dengan peningkatan produktivitas. “Kalau di saat seperti ini, kita harus benar-benar lebih demanding.”

“Jadi saat keadaan ekonomi ini menjadi lebih challenging, nah bagaimana kita bisa untuk tidak hanya fokus masalah perkembangan adopsi teknologi tetapi juga bisa meyakinkan diri bahwa kita bisa menuju growth dan profitabilitas yang lebih cepat dan lebih jelas.”

Meski adaptasi perubahan menghasilkan cara kerja yang lebih efektif dengan hasil efisiensi yang lebih tinggi, namun ada beberapa fungsi yang tidak bisa didelegasikan. “Mau nggak mau yang namanya news report kan harus di lapangan, tidak bisa dari rumah. Saya juga punya stasiun transmisi di mana-mana, itu harus bekerja juga.” Rasa terima kasih yang besar ia ungkapkan atas dedikasi karyawan EMTEK Group yang luar biasa.

“Pandemi ini menjadi kesempatan kita untuk melakukan refleksi, introspeksi dan perbaikan.”

Di usia kemerdekaan Indonesia ke-75 tahun ini, pandemi telah berjalan hampir setengah tahun lamanya. Kemerdekaan di tengah pandemi ini ia harapkan dapat menjadi kesempatan semua orang untuk refleksi, introspeksi dan melakukan perbaikan diri, bahkan untuk Indonesia yang ia harapkan mampu menjadi bangsa yang mandiri. “Pada waktu pandemi ini sudah lewat, kita berharap bahwa sebagai organisasi ya kita keluar sebagai organisasi yang lebih solid dan lebih kokoh.”

Sebelum mengakhiri perbincangan kami, GREAT ISS memintanya untuk berbagi tips yang mencerminkan prinsip hidupnya dan tetap ia pegang sampai sekarang. Sutanto pun tertawa lepas dan bergurau kalau ini pertanyaan yang paling susah.

Penggemar film klasik ini kemudian melanjutkannya dan berkata, “Hidup ini adalah constant learning, nggak pernah bisa lulus dari hidup ini. Tiap tahun selalu ada banyak hal yang membuat kita itu menjadi lebih baik lagi. Be who you are karena kita ini memiliki keunikan yang beda daripada orang lain, tidak perlu men-copy orang lain. Tapi bukan berarti kita tidak bisa terbuka untuk proses pembelajaran dari orang-orang di sekeliling kita agar kita tetap akan menjadi orang yang lebih baik lagi dengan keunikan kita sendiri.”

***


0 Komentar
Artikel Terkait