Kerja Keras Seorang Pengamen Menjadi Supervisor Jumat, 02 Oktober 2020

Kerja Keras Seorang Pengamen Menjadi Supervisor Image © ISS Indonesia.

Wakhid Nurrokhman Aziz, 26, tak pernah menyangka akan perubahan nasib yang telah dialaminya. Dari tanah kelahirannya di Jepara, Jawa Tengah, ia yang dulunya hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini merantau ke kota Tangerang dan pernah menjalani profesi sebagai pengamen di jalanan. Tak ada pilihan lain baginya kala itu, demi dapat menyambung hidup setiap harinya. Gitar lusuhnya pun menjadi sahabat terbaiknya, yang membantunya untuk memperoleh keping demi keping Rupiah.

Pria yang akrab dipanggil Wakhid ini sadar betul bahwa jenjang pendidikan yang dimilikinya waktu itu yang tidaklah cukup untuk mendapatkan pekerjaan yang baik di kota besar. Kurang lebih selama tiga tahun lamanya dalam perantauan selama tiga tahun lamanya di Tangerang, Wakhid bergonti-ganti pekerjaan, untuk dapat mencukupi kebutuhan makan dan membayar sewa kamar kontrakan yang ia tinggali sehari-hari.

Meski keadaan begitu pahit, semangat dan kerja keras Wakhid untuk memperbaiki taraf hidupnya kemudian membawa ia mampu untuk mengikuti dan lulus sertifikasi pendidikan Paket C atau setingkat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA), di tahun 2015. Dari situlah, ia kemudian melamar pekerjaan sebagai operator cleaning service di ISS Indonesia dan mulai bergabung pada tahun 2016.

Itulah kenangan Wakhid yang kini merupakan Supervisor KSO APS-ISS Bandar Udara H.A.S Hanandjoeddin di Belitung. Dari perusahaan global penyedia manajemen fasilitas yang menaunginya, ia menerima bekal awal pendidikan dan pelatihan dalam New Comer Class (NCC) yang begitu diingatnya untuk selalu menanamkan kejujuran dalam hal apapun.

Menjunjung tinggi kejujuran dari pelajaran di NCC, sampai pekerjaan, hingga keseharian. Jujur itu tidak sekadar tidak korupsi secara materi, namun jujur dalam melakukan segala hal dalam pekerjaan yang kita lakukan,” ucap Wakhid.

Di tahun pertamanya bekerja, ia berusaha memulai kariernya dengan sebaik mungkin melalui penugasan di area Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Waktu awal saya menjadi front liner, saya senang memperhatikan rekan kerja yang pandai menggunakan mesin cleaning. Setelah saya bisa, saya melihat shift leader agar bisa menjadi shift leader untuk memotivasi diri untuk terus naik,” tutur Wakhid dengan penuh semangat.

Hanya berselang satu tahun menjalani profesinya sebagai operator cleaning service, ia membuktikan semangat dan tekadnya tersebut dalam memberikan pelayanan terbaik sehingga dipromosikan menjadi shift leader pada tahun 2017. Tidak berpuas diri dan tidak berhenti untuk belajar, di tahun keempatnya ia bekerja, Wakhid kembali mendapatkan kepercayaan untuk menjadi supervisor pada tahun 2019. Ia menganggapnya sebagai tantangan,

Key Account Manager Angkasa Pura Group, Hangga Setio Budi, menilai Wakhid memang pantas mendapatkan tugas dan tanggung jawab yang dipercayakan kepadanya kini. “Wakhid dari segi performance sangat baik karena dapat berhubungan dengan klien dan tim dengan sangat baik. Harapan saya agar Wakhid dapat menjadi contoh bagi timnya,” ujar pimpinan Wakhid dalam industri transportasi udara ini.

Menurut penilaian klien, Wakhid pun diakui telah membawa kepuasan pelanggan melalui pelayanan jasa yang ia dan timnya sampaikan. “Saudara Wakhid memiliki dedikasi dan kinerjanya yang sangat memuaskan, selain itu sehari-hari beliau bekerja dengan ikhlas dan memberikan pelayanan yang sangat memuaskan,” tutur Executive General Manager Bandara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin, Nanang N. Saputro.

Dalam pekerjaannya kini sebagai seorang pengawas di area yang masih cukup baru baginya, Wakhid berkomitmen untuk tidak berhenti belajar. Sesederhana belajar cara berkomunikasi dan berbudaya dengan tim dan kliennya di daerah perantauannya di Belitung. Dengan ditempatkan di luar area asal, saya lebih belajar untuk menghargai orang, harus benar-benar menganalisa orang lain, tidak bisa straight-forward dalam memberikan instruksi dan menyelesaikan masalah, dan harus dengan hati,” tuturnya.

Wakhid juga mengatakan, “Di setiap fase hidup harus belajar, tidak berhenti di sekolah. Setiap bertemu orang baru menempatkan diri sebagai gelas kosong. Saya bersedia memberikan pelayanan di Bandara Internasional H.A.S. Hanandjoeddin karena saya memiliki tantangan yang berbeda. Saya mendapatkan pembelajaran baru yang khusus untuk menghadapi orang orang baru lagi dan menambah wawasan saya dalam menangani manpower yang berbeda lagi.”

Empat tahun mendedikasikan diri bersama ISS Indonesia merupakan waktu yang sangat luar biasa bagi Wakhid. Hasil kerja keras dan ketekunan bekerjanya pun telah memberikan kebanggaan tersendiri bagi orang tuanya. “Orang tua jadi senang. Mereka hanya mampu menyekolahkan saya sampai SMP, namun sekarang anaknya bisa menjadi seorang supervisor,” cerita Wakhid atas ungkapan orang tuanya. Wakhid pun bersyukur dan sangat senang karena merasa terus diberdayakan oleh perusahaan yang sangat peduli terhadap karyawannya.***


2 Komentar

Menginspirasi! Untuk mengingatkan kita bahwa ada hasil dari setiap usaha dan perjuangan.





Saya niat berkerja dan bergabung di pt iss





Artikel Terkait