Bukti Bakti dengan Loyalitas dan Konsistensi Jumat, 23 Oktober 2020

Bukti Bakti dengan Loyalitas dan Konsistensi Image © ISS Indonesia.

Setiowati, 33, hanyalah seorang lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di kampung kelahirannya di Desa Ngrancang, Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, saat itu mayoritas anak-anak sebayanya sudah dianggap cukup dengan menamatkan jenjang pendidikan sampai di bangku SMP. Mayoritas penduduknya merupakan buruh tani, seperti halnya yang dilakukan oleh kedua orang tua Wati, nama panggilannya.

Namun sebagai anak tunggal perempuan, Wati tidaklah memanjakan dirinya untuk hanya hidup dari pemberian kedua orang tuanya. Berbekal ijazah SMP, Wati memberanikan diri untuk merantau ke ibukota Jakarta demi mencari pekerjaan dan dapat membantu kedua orang tuanya di desa. Ia sadar akan kewajibannya kepada orang tuanya. Wati pun bertekad untuk bisa menunjukkan baktinya sebagai seorang anak.

Di awal masa perantauannya, tidaklah mudah bagi Wati untuk mendapat pekerjaan yang layak kala itu. Bekerja sebagai karyawan konveksi atau garmen pun sempat ia lakoni selama empat tahun lamanya. Namun karena jam kerja yang tidak sehat dan tidak ada harapan akan masa depan yang lebih baik, Wati memutuskan untuk berhenti dan mencari pekerjaan lain.

Pada tahun 2010, ia bergabung menjadi bagian dari ISS Indonesia dengan area penugasan pertamanya yaitu di Ratu Plaza, Jakarta Selatan. Jam kerja yang sesuai dan disiplin, pemberian upah yang juga ia nilai sesuai dan layak atas apa yang ia kerjakan, membuatnya terus bertahan menjadi bagian dari perusahaan asal Denmark tersebut.

Saat ada teman yang menawarkan masuk ISS Indonesia, saya terima kala itu untuk mendapat jaminan hidup yang lebih baik, Semua kebutuhan terjamin, terutama jaminan kesehatan,” kenangnya.

Pada saat kebanyakan orang seusianya bebas saja membeli barang-barang yang diinginkan dan dibutuhkan secara pribadi, Wati selalu ingat dengan tekad awalnya merantau dan bekerja. Ya, ia melakukannya demi kedua orang tuanya. Dari hasil keringatnya, setiap bulannya, Wati menyisihkan secukupnya agar ia dapat memberikan kebutuhan papan yang layak bagi orang tuanya. Sampai akhirnya Wati kemudian membangun kembali gubuk bambu beralaskan tanah dan berdindingkan kayu menjadi rumah yang berlantaikan keramik dan berdindingkan tembok semen yang lebih layak untuk dihuni oleh bapak dan ibunya.

Setelah dirasakan sudah cukup memberikan yang terbaik kepada kedua orang tuanya, Wati pun mulai berfokus pada kariernya. Dalam perjalanan kariernya, banyak hal yang ia pelajari mengenai dunia facility services. Sampai pada tahun 2017, ia dipromosikan menjadi junior supervisor karena berhasil membuktikan dedikasi dan kinerja baiknya selama memberikan pelayanan kepada klien.

“Waktu pertama naik jadi junior supervisor merupakan perjuangan yang sebenarnya. Saya sempat diragukan teman-teman bahwa saya tidak mampu menjabat. Tapi saya buktikan dengan saya banyak belajar, lebih disiplin, dengan kemauan dan niat pasti bisa,” tegasnya.

Wati selalu berusaha untuk memotivasi rekan kerja yang ia pimpin di area Grand Slipi Tower Jakarta, bahwa mereka juga bisa menapaki jenjang karier seperti dirinya. Dalam berbagai kesempatan yang ada, ia juga mengkomunikasikan dan berkoordinasi dengan semua tim terkait di areanya agar pekerjaan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan harapan klien.

Upaya yang Wati lakukan juga berbuah apresiasi dari rekan-rekan kerjanya, termasuk dari Building Manager Grand Slipi Tower Jakarta, M. Ichfan Nur Efendi yang mengatakan, “Saya sebagai atasannya, melihat keseharian Wati dalam menjalankan tugas pekerjaan dengan penuh tanggung jawab terhadap semua pekerjaan, berdedikasi tinggi, dapat menjadi contoh yang baik untuk bawahan serta rekan kerja, dapat berkomunikasi dengan baik. Loyalitas serta totalitas dalam bekerja, menjunjung tinggi tingkat kejujuran, respon cepat komplain klien, dan saya sangat merekomendasikan untuk melangkah menjadi lebih baik lagi.”

Adalah tekad kuat Wati dalam perantauan demi bisa berbakti kepada orang tuanya, yang memberinya kekuatan besar hingga berada pada pencapaiannya saat ini. Meski hanya lulusan SMP dari desa, Wati bersyukur atas kepercayaan dan tanggung jawab yang telah diberikan kepadanya.

“Pengalaman yang mendorong mempunyai tekad untuk merantau dari desa. Di sana teman-teman setelah lulus SMP, kebanyakan bertani atau sebagai pekerja bangunan. Itu yang membuat tekad saya untuk merantau dan mengubah hidup. Kini teman-teman saya kagum atas pencapaian saya. Saya juga berharap saya dapat menjadi role model untuk teman-teman saya di desa untuk dapat mengejar mimpi dan berjuang untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” pungkas Wati dengan penuh harap.***



2 Komentar

Terima kasih iss Indonesia





link yang sangat memotivasi untuk rekan kerja ( dari kegigihan nya yg cuma tamatan SMP ) di ISS tidak ada kata yg mustahil ada kemauan untuk berkembang dan mengubah nasib pasti bisa. Lanjutkan !!! maju ISS ku , Jaya ISS ku ,