Prestasi yang Mengubah Stigma Rendah Profesi Cleaning Service Jumat, 30 Oktober 2020

Prestasi yang Mengubah Stigma Rendah Profesi Cleaning Service Image © ISS Indonesia.

“Aidia do ala loja iba karejo pasikkolahon ko dao tu Medan an haru marutang utang iba tu jolmai hape holan panapu napu do.” ucap emosional seorang ibu dalam bahasa Medan. Kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, artinya, “Capek-capek menyekolahkan ke kota Medan bahkan terlilit utang rupanya kerjaanmu cuma pembantu jadi cleaning service.”

Itulah kenangan seorang Frince Aritra Rajagukguk, 34, saat menceritakan kembali ucapan emosional sang ibu yang pernah menanggapi profesi pilihannya. Frince, nama panggilannya, mengerti betul akan kekecewaan orang tuanya kala itu. Meskipun hanya sebagai lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), di pundak sulung dari tujuh bersaudara ini, orang tuanya menaruh harapan besar untuk ia bisa membantu adik-adiknya mendapatkan pendidikan dan mengantarkan mereka untuk bisa memiliki masa depan yang lebih baik.

Namun dari ucapan sang ibu itu jugalah, Frince terdorong untuk membuktikan bahwa menjadi petugas cleaning service bukanlah pekerjaan yang rendah, dan bukan berarti juga masa depannya akan suram. Sempat bekerja sebagai penjaga warung internet, Frince pun tertantang agar orang tuanya bisa menerima profesinya.

“Mengubah pandangan orang tua, tentang saya menjalani profesi sebagai cleaning service benar-benar butuh perjuangan. Karena saat itu di mata kedua orang tua saya, cleaning service sama halnya dengan menjadi pembantu, terutama karena saya adalah anak sulung,” ungkap Frince.

Frince bergabung dengan ISS Indonesia sejak tahun 2004. Dalam perjalanannya, ia mendapat penugasan di berbagai macam area di Kota Medan. Dari area pabrik manufaktur, ke pusat-pusat perbelanjaan dan perkantoran, hingga rumah sakit.

Sampai pada tahun 2019, Frince dipercaya untuk menjadi supervisor di area Dinas Lingkungan Hidup Simalungun (DLHS) Kota Parapat. Selain dekat dengan kampung kelahirannya, Frince bersyukur karena di area yang menjadi bagian dari kawasan destinasi super prioritas nasional di Danau Toba ini ia juga dipercaya untuk menjadi pengawas bagi sekitar 50 manpower.

Kota Parapat, tepatnya yang terletak dalam wilayah Kecamatan Girsang Sipangan Bolon pun berhasil ia dan timnya sulap menjadi lebih bersih dan rapi sehingga memberikan kenyamanan bagi pengunjung kawasan wisata Danau Toba. Lebih dari itu, kebiasaan dan budaya masyarakat sekitar pun perlahan mereka ubah sehingga menjadi lebih peduli dengan kebersihan lingkungan.

Kini setelah enam belas tahun lamanya berdedikasi dengan bukti kualitas kinerja dan konsistensi yang ia berikan, apresiasi dan rekognisi pun datang dari perusahaan yang menaunginya. Frince dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan Bima Club dalam The Best Employee ke-91, akhir Oktober lalu.

Menurut Site Head Dinas Lingkungan Hidup Pemerintah Kabupaten Simalungun, Rudi Hartono, adalah kepemimpinan di dalam tim dan kemampuan Frince dalam mengambil hati masyarakat Toba dengan gotong-royong, yang utamanya membawa ia layak atas apresiasi dan rekognisi ini. Rudi mengatakan, “Frince punya leadership yang kuat, jiwa proaktif yang tinggi dalam mengatur pekerjaan timnya terlebih di saat urgensi. Bisa mengambil hati dan mengedukasi masyarakat terkait penanganan sampah. Frince memiliki bakat yang luar biasa.”

Dari profesi yang dijalani, Frince telah benar-benar dididik untuk menjadi manusia yang lebih baik, baik itu untuk dirinya sendiri maupun orang lain. “Saya sadar kalau saya hanya memegang sapu dan alat pel, tetapi kami di sini dimengerti dan sangat dihargai atas profesi kami ini,” jelas Frince.

Frince juga telah membuktikan kepada orang tuanya bahwa ia mampu memberikan yang terbaik kepada mereka dan enam orang adiknya. Meski harus mengubur mimpinya untuk melanjutkan pendidikan di sekolah keperawatan, Frince ikhlas. Stigma sang orang tua tentang profesinya pun telah ia ubah melalui prestasi bekerja yang telah ia capai.

Lihatlah anakmu sekarang, bisa berprestasi, mendapat apresiasi dari atasan dan klien, mendapat penghargaan dari perusahaan. Orang tua saya sudah bisa paham dan mengerti bahwa profesi yang anaknya jalani ini adalah profesi yang baik. Saya meyakinkan mereka bahwa pekerjaan saya ini profesional, bukan seperti tukang sampah.” tutur haru Frince .

Ibu dari dua anak ini juga bertekad untuk bisa lebih maju bersama ISS Indonesia yang begitu menghargai setiap karyawannya. Ia pun berharap dapat terus memberikan kebaikan dan kebanggaan bagi orang tuanya.

“Bekerja sebaik mungkin untuk dapat berbakti kepada orang tua dan memenuhi kebutuhan pangan hingga pendidikan ke-enam adik saya, adalah prioritas utama saya bekerja,” pungkasnya bangga.***


3 Komentar

Sukses selalu Bu frince, songoni Mantab





Semangat bu frin..... Semoga ini bisa menjadi motivasi dan inspirasi buat kami team dinas lingkungan hidup Parapat





Semangat terus buat bu Frince. Semoga kami bisa sepertimu bu. Semangatmu jd contoh buat kami