Kenangan yang Memicu Semangat Terus Belajar dan Menjadi Lebih Baik Jumat, 22 Januari 2021

Kenangan yang Memicu Semangat Terus Belajar dan Menjadi Lebih Baik Image © ISS Indonesia.

Pernah merasakan putus sekolah dan bekerja menjadi seorang kernet truk pengangkut pasir sekaligus menjadi pengamen keliling, menjadi kenangan yang mampu memotivasi Dede Nugraha, 28, untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. 

Di tahun 2007, Dede yang kala itu lulus dari jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP), tidak dapat melanjutkan pendidikannya karena faktor ekonomi keluarga. Saat itu, ayahnya yang bekerja sebagai montir dan ibunya yang menjadi buruh cuci di perumahan, tidak memiliki cukup penghasilan untuk membiayai sekolah Dede ke jenjang selanjutnya.

Dari pamannya, anak kedua dari enam bersaudara ini kemudian ikut bekerja sebagai kernet truk pengangkut pasir. Namun penghasilan yang tak seberapa itu belumlah cukup untuk membantu kedua orang tuanya kala itu. Ia lalu menjalani pekerjaan sampingan sebagai pengamen di sekitar perumahan warga.

Sadar akan keinganannya untuk memperoleh pekerjaan yang lebih baik, Dede akhirnya memutuskan untuk mengikuti sertifikasi pendidikan Paket C atau setingkat dengan Sekolah Menengah Atas (SMA), dan berhasil lulus. Berbekal sertifikat inilah, Dede menerima tawaran dari seorang temannya untuk melamar pekerjaan sebagai operator cleaning service di ISS Indonesia.

Dukungan dari orang tua pun datang, seketika Dede mulai bekerja di perusahaan penyedia layanan jasa dan manajemen fasilitas tersebut, sejak tahun 2012. “Tanggapan orang tua dulu, bersyukur saya bisa bekerja sebagai cleaning service. Dilihat dari segi pendidikan saya juga, saya mikir, mana mungkin saya bisa dapat pekerjaan yang lebih dari itu,” kenang Dede.

Dalam perjalanannya, Dede mampu membuktikan bahwa dirinya mau terus belajar dan siap menerima tantangan. Hal ini terbukti ketika di tahun keempatnya bekerja, ia dipilih mengikuti proses seleksi ke level pengawas lewat ISS Academy. Ia pun berhasil dipromosikan hingga kini menjadi junior supervisor di area PT Astra Honda Motor (AHM) Parts Centre Karawang.

“Saya sempat dibilang bahwa saya kurang mencerminkan jasa pelayanan. Dari situ saya jadi banyak belajar, seperti lebih senyum sama orang, bagaimana kita ramah dan menyapa orang, dan ternyata bisa berdampak bagi orang lain juga, bukan hanya buat saya aja,” ungkap Dede.

Menjalani tanggung jawab sebagai seorang leader membuat Dede juga tergerak untuk belajar tentang banyak hal. Tak hanya pekerjaan cleaning service seperti yang sebelumnya ia lakukan, tapi juga bagaimana bisa menangani multiservice di area pelayanan.

Hal itu diakui oleh Senior Supervisor PT Astra Honda Motor Parts Centre, Wahyu Galih Setiawan, yang mengatakan, “Sosok Dede sangat bertanggung jawab terkait areanya. Ia bahkan bisa meng-handle beberapa services terutama cleaning, parking, gardening, maupun office support termasuk receptionist,” tuturnya.

Sementara itu, rekan kerja Dede yang lain menilai sosok Dede sebagai orang yang mau berusaha dan mau belajar terkait apa pun yang ditugaskan kepadanya, dan dapat menunjukkan hasil yang cukup baik.

Service Supervisor PT AHM Plant 4 Karawang, Martim, mengatakan, “Kehadiran Pak Dede sangat membantu pekerjaan di area AHM. Selain kemampuan komunikasinya yang bagus sehingga dapat membantu menyelesaikan permasalahan di lapangan, Pak Dede juga sangat mengerti dengan kondisi timnya. Dia bisa menentukan skala prioritas pekerjaan di area,” jelas atasan yang pernah memimpin Dede tersebut.

Kemampuan Dede dalam memimpin tim juga ditunjukkan dengan baik melalui pemberdayaan tim, terutama di saat kondisi di area sedang tidak stabil, yang dapat memengaruhi performa kehadiran manpower di area. Sementara itu, pelayanan yang optimal harus tetap dapat tersampaikan. Di sini, perannya untuk dapat menentukan strategi terkait skala prioritas pekerjaan secara tepat dan penuh perhitungan, dapat ia lakukan.

Dalam kesehariannya memberikan pelayanan yang terbaik, peraih penghargaan Bima Club pada The Best Employee ke-89 ini juga memiliki prinsip yang selalu ia pegang, sebagai bekal dirinya untuk dapat konsisten menjalankan pekerjaan.

“Saya juga mengingat pesan orang tua, kalau kita kerja mau awet dan lama, jujur salah satu kuncinya. Mudah-mudahan, kalau kita jujur, kita akan dipertahankan juga di pekerjaan. Jangan gelap mata, dalam artian misalnya kita lihat barang yang bukan punya kita, ya jangan diambil,” ujarnya.

Dede memiliki harapan untuk menjadi lebih baik. Kenangan masa lalu memang kerap membuatnya sedih, namun juga menjadikannya selalu bersyukur terhadap apa yang ia jalani saat ini, “Saya ingin hidup lebih baik. Jangan sampai nanti ke depannya, anak-anak saya atau pun keluarga saya merasakan hidup di jalan kayak saya dulu,” pungkas Dede dengan penuh harapan.***


0 Komentar