Harapanku pada COVID-19 dan New Normal Rabu, 21 April 2021

Harapanku pada COVID-19 dan New Normal Image © ISS Indonesia.

Cerita dari Dedi Winarno, Talent Development Coordinator ISS Indonesia. 

Dalam kehidupan manusia ada kelahiran dan kematian. Kelahiran disambut sukacita, namun sebaliknya, kematian disambut dengan duka. Ada perayaan mengulang hari kelahiran, dan tidak sedikit yang juga mengenang hari kematian seseorang dengan perayaan tertentu.

Wabah COVID-19 yang mulai menyerang dunia setahun yang lalu, apakah akan dianggap sebagai sebuah peristiwa yang patut dirayakan keberadaannya setelah setahun? Ataukah justru kita akan menganggap ‘dia’ sebagai peristiwa yang cukup dengan mengenangnya saja, tanpa ada seleberasi yang meriah atas kehadirannya di muka Bumi ini.

Dampak kehadirannya tak dipungkiri membuat seluruh dunia membuka mata, bahwa selama ini, sebelum kehadirannya, di antara kita sedikit banyaknya telah lalai dan ‘meracuni’ Bumi dengan berbagai sampah. Seakan-akan Bumi sekarang berkata, “Rasakanlah sekarang, bagaimana aku merasakannya selama ini, bagaimana kalian tidak menghargaiku dan memperhatikanku.” Kita sekarang berjibaku berjuang menghindari wabah ini dari kehidupan kita setelah selama ini kita mengabaikannya.

Bagaimana sekarang ini kita akhirnya sadar bahwa alam yang kita tinggali sejak ribuan tahun lalu sudah sejak lama memberi peringatan kepada kita untuk menjaganya. Bencana-bencana yang datang silih berganti harusnya disikapi sebagai sebuah tanda bahwa ‘dia’ juga lelah dengan tingkah kita.

Wabah yang datang ini bukan merupakan yang pertama, karena sebelumnya pun sudah pernah ada wabah-wabah lainnya yang menyerang makhluk Bumi dengan memakan korban jutaan manusia dengan versi yang berbeda-beda, namun dengan satu kesamaan yaitu peringatan untuk menjaga alam yang diberikan Tuhan.

Setelah setahun kehadiran COVID-19, berbagai gejolak peristiwa menyertainya. Mulai dari menghilangkan kerumunan massal, bangkrutnya perekonomian, hancurnya pariwisata dan bisnis hiburan, sampai kepada hubungan sosial antar manusia yang harus rela berjaga jarak agar tak tertular.

Kita akhirnya jadi terbiasa untuk bersih-bersih diri, minimal mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas, memakai masker dan menjaga jarak dengan orang lain, yang dulu mungkin tidak pernah atau jarang kita lakukan.

Saat ini, semua orang fokus menjaga kesehatannya, mulai dari aktif berolahraga baik yang dilakukan di luar ruangan atau sekadar di halaman rumah agar tubuh fit dan imunitas meningkat. Konsumsi makanan suplemen atau jamu tradisional, yang mungkin dulu tidak pernah dijamah.

Aktivitas belajar dan bekerja saat ini dapat dilakukan dengan menembus batas ruang dan waktu karena dapat dilakukan secara daring dari rumah dan dapat terhubung dengan siapa pun, tidak hanya di dalam negeri tapi juga sampai ke mancanegara.

Minat orang menekuni hobi yang dulu pernah dilakukan, atau bahkan membuat orang menyukai sebuah hobi yang dilakukan orang lain, menjadi meningkat, seperti menanam tanaman hias dan memelihara ikan. Hal ini menjadi sebuah fenomena baru yang terjadi di tengah kita, dari hasil merebaknya wabah.

Semuanya sudah menjadi kegiatan rutin dan menjadi bagian hidup seseorang. Akan terasa aneh saat ini kalau akan beraktivitas di luar rumah tanpa membawa masker dan hand sanitizer. Akan terasa janggal jika bertemu teman lalu bersalaman atau bahkan cipika-cipiki.

Sebagai salah satu dari miliaran umat manusia yang masih ingin tinggal di Bumi dan melakukan semua aktivitas yang dulu pernah dilakukan, saya pun terpanggil untuk selalu ingat bahwa kita juga punya peran untuk mendukung semua hal tersebut agar wabah segera berlalu.

Harapan saya, jika ini semua berakhir, semoga aktivitas perekonomian kembali pulih, kegiatan masyarakat untuk menjalankan pekerjaan dan kegiatannya tidak lagi terhambat oleh PSBB atau apa pun namanya. Kegiatan beribadah juga kembali normal.

Semua kegiatan yang baik dan dapat diteruskan akan dipelihara dan dijaga agar menjadi kebiasan baru dan menjadi gaya hidup yang akan dikenang, sebagai bagian dari sebuah perjuangan di tengah berkembangnya wabah.

Mari, kita semua mengambil pelajaran dari apa yang kita hadapi saat ini. Wabah tidak akan berlalu kalau sikap kita, kepedulian kita untuk menjaga alam dari kerusakan dan kehancuran, biasa-biasa saja.

Ingat, apa yang kita sudah pelajari dari pengalaman ini jangan sampai dirasakan oleh cucu dan cicit kita di masa yang akan datang. Biarlah mereka menjadikan pengalaman kita sebagai sebuah sejarah yang cukup untuk diketahui, tapi tidak untuk dirasakan kembali dengan versi yang berbeda.*


0 Komentar