Tukang Ngelap-Ngelap, Bisa Jadi Leader Senin, 19 Desember 2016

Tukang Ngelap-Ngelap, Bisa Jadi Leader Image © ISS Indonesia.

Gadis kelahiran Belawan ini tak pernah menyangka bisa bekerja di ISS Indonesia dan mencapai jabatan Team Leader seperti saat ini. “Saya kerja di ISS karena di mana-mana tidak diterima bekerja,” kenang Melina Panjaitan, sang gadis. Karena itu ia amat bersyukur bisa bekerja di ISS Indonesia yang sangat menghargai setiap karyawan seperti dirinya dengan pendidikan hanya SMK.

Melin, begitu ia akrab dipanggil, punya semangat baja untuk menghadapi segala rintangan dalam perjalanan hidupnya dengan bermodalkan prinsip hidup seperti pohon bambu. “Selama lima tahun pertama, pohon bambu hanya begitu-begitu saja. Sekian tahun itu dia menguatkan akarnya lebih dahulu. Setelah itu ia baru tumbuh sangat kuat tanpa tergoyahkan oleh kejadian apa pun,” tutur gadis penggemar bakso ini.

Ketika digembleng dalam pendidikan dasar di ISS Academy di Ragunan saat awal masuk ISS Indonesia pada April 2011 ia pun pantang surut. “Badan penuh lumpur, cacing, masuk selokan, fisik sangat letih … lalu ditanya tetang ISS, saya harus bisa jawab dengan benar,” kenang gadis kelahiran 7 Maret 1993 itu.

Bagi Melin, kenangan di ISS Academy sangat melekat hingga kini. Yang paling tak terlupakan adalah saat makan, telur yang jadi lauk jatahnya ditukar dengan ayam yang harusnya jadi jatah instrukturnya. “Kata instruktur, saya adalah peserta paling semangat ketika itu,” ujar putri dari pasangan Firman Panjaitan dan Nur Maidah Napitupulu ini.

Gemblengan di ISS Academy dan prinsip hidupnya tentang pohon bambu pun membawa hasil bagi Melin. Setelah empat tahun sebagai petugas kebersihan, Melin kemudian dipercaya sebagai Team Leader dari 2014 hingga sekarang.

Gadis pengagum Ahok yang bertubuh mungil ini pun menyadari tanggungjawab yang diembannya semakin besar. Namun, hal itu syukuri sebagai berkah dari Yang Kuasa. Ia mengaku banyak belajar menghadapi beragam kepribadian orang. “Kita belajar memandu, memahami, dan mengayomi dengan benar serta menjaga sikap dalam kondisi apa pun,” tegasnya.

Dengan karir yang bertumbuh, kepribadian yang berkembang, Melin juga merasakan pandangan orang di sekitarnya berubah. “Orang-orang yang kenal saya bilang, ‘gak nyangka  ya tukang ngelap-ngelap bisa bicara bagus dan baik, walaupun anak bungsu bisa juga bijak’ dan komentar-komentar positif lainnya deh .. hihi,” katanya sambil tersenyum.

Pertumbuhan dalam Ilmu pun ia rasakan ketika berhasil menyelesaikan kuliah dan meraih gelar S1  di bidang Ilmu komputer. Hal itu sangat menunjang jabatannya sekarang sebagai leader, di mana ia harus bisa membuat laporan secara tertulis, grafik dan mengevaluasi dengan berbagai ukuran dan kriteria.

Satu hal yang amat ia suka dan membuatnya bertahan bekerja di ISS indonesia adalah faktor human touch. Menurut penggemar Agnes Monica dan Tantri Kotak ini, human touch sangat bermanfaat dalam kehidupan sehari-harinya dan yang membuatnya berubah seperti sekarang.

Karena itu, dara yang suka bernyanyi ini melanjutkan, “Saya bahagia bisa mengajari bawahan saya yang ingin maju, menjadi inspirasi dan memotivasi orang lain.” Melin berharap ISS Indonesia dengah human touch-nya bisa mencetak lebih banyak orang lagi yang punya prestasi segudang dan sikap-sikap terpuji. 

Penggemar cappuccino ini pun teringat akan suatu kutipan bagus, “Bukan hidup yang membuat kita nyaman, tapi kenyamanan yang membuat kita hidup.” Ia merasa bekerja di ISS Indonesia sudah nyaman dan ia optimis akan bisa meraih prestasi-prestasi lagi di masa depan di perusahaan ini. Amin.**


0 Komentar