Mempertaruhkan Nyawa Demi Keamanan Jumat, 12 Mei 2017

Mempertaruhkan Nyawa Demi Keamanan Image © ISS Indonesia.

Kala itu, April 2011 silam, dua hari menjelang perayaan Jumat Agung, raut panik tergambar di wajah Utar Muhayat, Senior Supervisor Security Service salah satu gereja di kawasan Serpong. Ia baru saja mendengar ledakan kecil yang diduganya berasal dari aula utama gereja dan membuat area sekitar bergetar. Meskipun berbeda keyakinan, ia tak ingin sesuatu yang buruk menimpa gereja, terlebih lagi para jemaahnya.

Bapak beranak tiga ini pun bergegas mengecek seluruh ruangan dengan ditemani pihak building management. Namun tak satupun keanehan yang ditemukannya. “Mungkin karena ada pipa gas di sekitar,” ungkap temannya itu. Rasa was-was Utar pun berangur-angsur hilang.

Namun, keesokan harinya, kekhawatiran Utar berbuah nyata. Polisi setempat menyatakan gereja tempat Utar bekerja disusupi bom. Selesai jaga malam, saat pria ini bersiap untuk kembali bercengkrama dengan keluarga, Utar justru wajib menjalankan kembali tugasnya. Bayang-bayang wajah istri dan anaknya yang sedang menanti di rumah sempat terlintas di benaknya.

Tapi kewajiban tetap harus dijalankan. Tanpa mengenal lelah, akhirnya Utar pun mengkomando team nya untuk mencari bom yang tersembunyi. “Disitu posisi saya yang tertinggi. Building Management tidak ada kaitannya. Jadi akhirnya sampai satu hari full saya tidak bisa kemana-kemana. Istri sudah menanyakan terus,” kenang pria yang hobi futsal ini.

Dibutuhkan keberanian dan ketelitian tingkat tinggi untuk menyisir area yang disisipi bom. Nyawa pun menjadi taruhan. Utar lantas menepis rasa takut yang sempat menghinggapinya. Akhirnya, tanpa rasa gentar dan ragu, ia bersama tim menyusuri area tersembunyi sekitar gereja. Dan hasilnya, berkat bantuan tim yang dipimpin Utar, beberapa alat dan bahan peledak dapat ditemukan. “Di mainhall kedua kami menemukan beberapa mortir dan alat pemicu bom. Ada korek api yang besar yang dihubungkan dengan handphone. Bom ini sudah aktif dan siap meledak di hari Jumat pagi jam 9,” ungkap pria yang mengidolakan Nabi Muhammad ini.

Dialah Utar, pria sederhana yang menomorsatukan kewajibannya dalam mengamankan gereja, walaupun itu bukanlah tempat ibadahnya dan di luar jam kerjanya. Pria yang usianya hampir 43 tahun ini masih memiliki semangat bekerja yang menggelora, layaknya anak muda. Prinsip hidupnya untuk ‘konsisten dalam bekerja’ bukan isapan jempol belaka. Dedikasi Utar pada pekerjaannya bahkan sudah diakui oleh Victor Manggora Siahaan, General Manager Metro yang rutin menghadiri kebaktian di gereja itu setiap minggunya.

“Ia bersama timnya selalu berusaha memberikan pelayanan maksimal terhadap pengurus dan seluruh jemaah gereja. Klien pun senang atas kualitas diri Pak Utar dan team,” ungkapnya. Maka tak heran, Utar sempat ditawari untuk bergabung dengan management gereja tersebut. Namun pria yang menggemari sop iga ini dengan halus menolaknya. “Namun Pak Utar selalu dengan baik dapat menyakinkan management gereja bahwa ia masih sangat mencintai ISS, perusahaan dimana ia bekerja saat ini,” tambahnya.

Sembilan tahun sudah Utar bergabung dengan ISS. Ia berharap dirinya dapat mengembangkan karir lebih tinggi lagi. “Semoga ISS kedepan nya jauh lebih baik lagi dan semoga ISS dapat menambah area lebih banyak lagi agar rekan –rekan yang di ISS tidak kesulitan untuk penempatan kerjanya,” tutup Utar. 


0 Komentar