Usia Bukan Halangan Untuk Berkarya Senin, 02 Oktober 2017

Usia Bukan Halangan Untuk Berkarya Image © ISS Indonesia.

Lantunan suaranya terdengar tegas dan berwibawa, layaknya seorang instruktur yang sedang memberi pengarahan. Rangkaian kata demi kata pun mengalir secara natural dan lugas, memberi jawaban tuntas atas pertanyaan yang diterima.

Sore menjelang malam itu, Pak Tisna – begitu pemilik nama lengkap Sutisna ini biasa dipanggil – datang ke sebuah perhelatan acara yang diberi nama ISS Purnabakti 2017  di Hotel Santika, Bintaro – Tangerang Selatan. Bersama istri tercinta, keduanya mengenakan batik sarimbit bermotif bunga dengan warna biru-kehijau cerah, menambah kuat wibawanya sebagai seorang pemimpin yang mau belajar dari banyak pihak. “Saya tidak berpatok hanya pada pimpinan sebagai role model saya, tapi juga saya belajar dari anak-anak di area, karena mereka tidak pernah bercita-cita menjadi cleaner. Tapi begitu menjadi cleaner mereka merasa bangga, itu kan hal yang luar biasa. Dari yang tidak punya harapan, menjadi punya harapan,” ujar Pak Tisna dengan penuh rasa bangga.

Awal pertama mengenal ISS adalah ketika waktu itu Pak Tisna mengabdikan diri sebagai seorang house keeper di sebuah lapangan golf di area Serpong. Disana perhatiannya teralihkan pada kwalitas kerja yang ditunjukkan para cleaner ISS saat itu. Hingga suatu ketika sebuah peluang emas untuk bergabung menghampirinya dan gayung pun bersambut. “Saya melihat ada masa depan di ISS, ada perkembangan yang berikutnya setelah ini, pasti kedepannya ada sesuatu yang lebih baik, itu yang saya ambil,” ujar pria kelahiran Garut, 55 tahun silam.

Hampir genap dua dasawarsa pengabdiannya di ISS, memberikan banyak pengalaman hidup yang tak tergantikan oleh apapun. Lebih dari separuh masa pengabdian itu dihabiskan Pak Tisna bekerja di industri rumah sakit. Ribuan bahkan mungkin ratusan komplen dari para tenaga medis, pasien, maupun keluarga pasien, telah menjadi hal rutin yang mesti dikelolahnya. “Justru kalo tidak ada tantangan kita enggak ada kemajuan, sepertinya tidak kerja,” ujar Pak Tisna yang selalu menghindari zona nyaman dalam pekerjaannya.

Ikatan batin yang terjalin antara Pak Tisna dan ISS, layaknya sebuah keluarga besar yang tidak mungkin dipisahkan, meski usia purna bakti telah menghampirinya. “Saya mau nya tidak ada komplen yang serius sampai ke atasan saya, biar diselesaikan di area,” ujar Pak Tisna mengenang akan janjinya kepada para atasannya.

“Saya ingin memberikan sesuatu kepada anak-anak diarea, saya ingin jadi instruktur – itu harapan besar saya kepada ISS. Hasil medical check-up menyatakan saya sehat dan saya masih mampu (untuk bekerja),” pungkas Pak Tisna dengan penuh semangat.


0 Komentar